Resensi Gifted Hands


Film Gifted Hands diangkat dari sebuah buku yang berjudul "Gifted Hands: Ben Carson's Story". Buku dan Film ini merupakan kisah nyata dari seorang Dr. Benjamin Carson yang merupakan Dokter ahli bedah urat syaraf terbaik di Dunia. Awal nya Benjamin Carson selalu didiskriminasi dan diremehkan karena dia adalah seorang keturunan African-American. 
Dimulai saat Dr. Bejamin Carson(Bennie) duduk dibangku SD, saat itu dia 'sangat bodoh'. Setiap ulangan matematika dia selalu mendapatkan nilai “F”. Teman-teman sekelas Benny selalu mengejek Bennie. Bahkan ada salah seorang teman Bennie yang dengan terang-terangan mengejek Bennie dengan mengatakan “You’re the dumbest kid in the world, Benny!”. Benny yang waktu itu masih kecil tidak bisa menahan emosi akhirnya Bennie memukul anak yang mengejeknya tadi. Bennie dan ibunya dipalinggil oleh kepala sekolah. Mengetahui nilai Benny yang jelek dan ulah Bennie ini, akhirnya Ibunya menasehati dia:

Ibu       : Kamu tidak ditakdirkan untuk gagal. Kamu harus bisa mengendalikan emosimu
Bennie : Mereka mengejekku bodoh, Ibu.
Ibu       : Kamu harus bisa meninggkatkan prestasimu. Ibu yakin kamu pasti bisa.
Bennie : Tapi aku sangat bodoh, Ibu.
Ibu       :Tidak, kamu tidak bodoh! Kamu anak yang pandai. Dengarkan aku, kamu hanya belum menggunakan kepandaianmu. Jika kamu terus-terusan seperti ini, kamu akan menghabisakan seluruh hidupmu mengepel di lantai pabrik. Itu pasti bukan kehidupan yang kamu inginkan. Dan itu juga bukan kehidupan yang diinginkan Tuhan untukmu, Benny.

Sejak saat itu Bennie mulai belajar di rumah, tapi saat belajar dia menemukan kata-kata sulit yang tidak bisa dibacanya. Akhirnya dia bertanya pada Ibunya. Padahal ibunya sebenarnya adalah wanita buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi Ibunya Bennie tidak mau mengecilkan hati Bennie. Alhasil Ibunya Bennie pun selalu berpura-pura matanya rabun sudah tua sehingga tidak bisa membaca tulisan kecil-kecil di buku saat Bennie bertanya pada Ibunya. Sebenarnya Ibunya sangat-sangat khawatir kalo Bennie dan Curtis (kakaknya Bennie) akan bernasib sama seperti ibunya menjadi pembantu yang hanya bisa mengepel lantai.

            Ibu Bennie memutuskan untuk pergi selama 1 minggu untuk menemui saudaranya dan mereka akan ditemani oleh suster Scott. Ia meminta kedua anak untuk menghafal perkalian selama ia pergi. Namun, mereka menolak nya tapi ibunya meyakinkan kedua putra nya itu pasti bisa menghafal perkalian walau hanya 1 minggu.
                Hari-hari berlalu, sepulang sekolah Bennie terlihat sangat bahagia. Kebahagiaannya bertambah ketika melihat sang ibu sudah berada dirumah kembali. “Oh Ibu, aku sangat merindukanmu, lihatlah bu, aku mendapatkan 24 dari 25 soal itu, aku dapat nilai A.” Teriak Bennie sambil tersenyum lebar.
            Sang ibu menbadapt pekerjaan membersihkan rumah seorang professor bernama Prof Burkett. Saat membersihkan rumah Prof. Burkett, Ibunya melihat banyak sekali buku di perpustakaan pribadi milik Prof. Burkett. Saking penasaranya, akhirnya Ibunya bertanya begini “Maaf Prof. Burkett, apakah Anda membaca semua buku yang ada di perpustakaan ini?”. Dan Prof. Burkett pun menjawab “Ya tentu saja Saya hampir membaca semua buku koleksi saya ini”. Mendengar jawaban Prof. Burkett tersebut, akhirnya Ibunya pun menemukan ide untuk mendidik anak-anaknya di rumah agar bisa pintar seperti Prof. Burkett. Caranya yaitu dengan menyuruh kedua anaknya banyak membaca buku. 
            Setelah sampai di rumah, Ibunya mulai menceramahi Bennie dan Curtis tentang dua peraturan baru yang harus mereka taati selama di rumah. Peraturan pertama, setiap satu minggu mereka harus membaca minimal dua buku, dan mereka harus membuat laporan tertulis tentang buku yang mereka baca serta harus mempresentasikan laporan tersebut secara lisan kepada Ibunya setiap akhir pekan. Peraturan kedua, Bennie dan Curtis juga dilarang terlalu banyak menonton TV. Mereka hanya boleh menonton dua program TV yaitu program kuis yang bisa menambah wawasan mereka. Tentu saja awalnya Bennie dan Curtis menolak karena TV adalah hiburan bagi mereka berdua, akan tetapi Ibunya langsung mengomel sambil membawa sandal dengan berkata “Kenapa kalian menghabiskan waktu kalian untuk menonton TV? Jika kalian menggunakan waktu kalian untuk mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan pada kalian, maka suatu hari nanti orang-orang akan melihat kalian berdua masuk TV!”

            Sejak saat itu, Bennie dan Curtis mulai rajin mengunjungi perpustakaan umum dan meminjam dua buah buku setiap minggu. Awalnya Bennie merasa terpaksa membaca buku-buku tersebut, tapi akhirnya dia menjadi terbiasa bahkan menjadi ketagihan membaca buku. Dengan membaca banyak buku, Bennie bisa mengembangkan daya imajinasinya serta menambah daftar vocabulary sulit dalam buku-buku yang dia baca. Bahkan berkat hobinya membaca buku itulah, dia jadi mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Salah satu contohnya adalah waktu Benny menemukan sebuah batu aneh di jalanan. Dia penasaran batu apa itu. Akhirnya dia pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku tentang batu-batuan. Dan ternyata batu itu adalah batu obsidian. Saat pelajaran Geografi, kebetulan gurunya Bennie bertanya bagaimana batu obsidian terbentuk. Semua murid di kelas tidak bisa menjawab, akhirnya Bennie mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan guru Geografinya dengan benar. Semua temannya dan gurunya terkejut karena Benny “si bodoh” bisa menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh murid-murid lainnya.

Peningkatan prestasi Benny juga terjadi di kelas Bahasa Inggris. Guru Bahasa Inggris di sekolah Bennie selalu mengadakan spelling bee dan menyuruh semua murid untuk mengeja kata-kata sulit seperti kata-kata “Saunter”, “Lacquer”, “Perpetuate”, “Magtitude”, etc. Kata-kata tersebut sangat sulit bagi anak level SD dan SMP, akan tetapi kata-kata tersebut tidak sulit bagi Benny karena dia sering menjumpai kata-kata tersebut di buku-buku yang dia baca. Tak heran jika di akhir semester dia memenangkan lomba spelling bee dan menjadi salah satu murid terbaik dan berprestasi di sekolahnya. Akan tetapi saat menerima penghargaan sebagai murid breprestasi, dia mendapat perlakuan rasis dari kepala sekolahnya. Kepala sekolah menghina Benny di depan umum sambil memakai microphone dan berkata “Sebelum Benjamin duduk, Saya punya beberapa patah kata untuk disampaikan. Benjamin adalah anak dari keluarga African-American. Dia bahkan tidak punya ayah dalam hidupnya. Dia datang ke sekolah ini dengan banyak ketidakberuntungan. Tidak ada alasan bagi kalian semua untuk tidak bisa melakukan yang lebih baik darinya. Ada apa dengan kalian semua anak-anak? Kalian tidak cukup keras berusaha. Seharusnya kalian malu!”. Mendengar pidato yang rasis tersebut tentu saja Ibunya Bennie tidak terima. Akhirnya Ibunya Bennie memindahkan Bennie ke sekolah khusus orang kulit hitam yang bisa menghargai prestasi Bennie secara sportif tanpa rasisme.
Tapi sayang, disekolah barunya Bennie mendapat teman yang kurang baik, dia terpengaruh dengan pergaulan yang salah. Dia dicemooh karena gaya pakaiannya yang terlalu kuno dan kebiasaannya mendengarkan musik klasik. Karena itu dia mencoba meninggalkan baju kuno dan musik klasiknya. Dia selalu membangkan ibunya dan bahkan pernah nyaris memukul ibunya. Sampai suatu hari sang ibu dipanggil pihak sekolah karena Bennie hampir membunuh seorang temannya. Itulah salah satu kelemahan Ben, tidak dapat mengendalikan emosinya. Dari kejadian itu bennie kembali focus ke pendidikan nya.

            Setelah lulus dari SMA pada tahun 1969, Bennie berhasil masuk fakultas kedokteran di salah satu kampus top dunia yaitu Yale University. Bennie harus berusaha dan belajar keras untuk lulus dari fakultas kedokteran karena kuliah di Yale University sangat kompetitif dan sulit. Saat dia merasa kesulitan belajar, dia menumbukan semangat belajarnya dengan selalu mengingat ibunya yang berjuang dan bekerja keras  agar bisa sekolah waktu kecil dulu. Akhirnya Bennie berhasil lulus dengan nilai cumlaude.
Pada tahun 1979, ia melamar menjadi dokter magang di Rumah Sakit paling terkenal di Amerika yaitu John Hopskin Hospital yang terletak di Kota Maryland. Tentu saja tidak mudah lolos seleksi agar bisa magang di rumah sakit terkenal itu. Semua pelamar harus diwawancarai apakah mereka layak magang di Rumah Sakit tersebut. Bennie diwawancarai oleh dokter senior dan ditanya “Kenapa anda memutuskan untuk menjadi dokter otak?“ lalu ia menjawab “Karena otak adalah sebuah keajaiban. Apakah anda percaya pada keajaiban? Tidak banyak dokter percaya pada keajaiban. Tidak ada banyak keyakinan di kalangan para ilmuwan. Kebanyakan dari kami hanya mempelajari laporan, dan memeriksa tubuh manusia. Itu semua sangat nyata dan solid. Tapi faktanya adalah masih ada begitu banyak hal yang tidak bisa kami jelaskan. Saya yakin kita semua mampu melakukan sebuah kejaiban melalui otak. Dan saya juga percaya bahwa kita semua diberi bakat dan keahlian yang luar biasa oleh Tuhan. Contohnya lihat saja Handel. Bagaimana Handel bisa menciptakan musik klasik seperti “Messiah” hanya dalam waktu 4 minggu? Itu semua berasal dari otak. Otak adalah sumber inspirasi untuk mencapai sesuatu yang luar biasa!”.

Akhirnya, Bennie lolos seleksi dan mulai magang di Rumah Sakit John Hopskin. Dia merupakan satu-satunya dokter berkulit hitam yang berhasil magang di salah satu rumah sakit bergengsi di dunia. Akan tetapi (lagi-lagi) ada orang bodoh yang melakukan tindakan rasisme. Ada seorang dokter senior yang meremehkan bahkan menghina Benny hanya karena Bennie orang negro, namun ia tidak marah dengan ejekan itu karena dia sudah belajar mengendalikan emosinya.

            Saat magang, ada pasien yang mengalami pendarahan otak gara-gara terkena pukulan tongkat baseball. Waktu itu tidak ada dokter senior yang jaga malam hari, sedangkan Bennie tidak boleh mengoperasi pasien tersebut tanpa ada pengawasan dan ijin dari dosen senior. Pasien tersebut akan meninggal jika tidak segera ditolong. Akhirnya Bennie nekat mengoperasi pasien tersebut tanpa pengawasan dokter senior. Untungnya operasi yang dilakukan Bennie berhasil. Akan tetapi dia tetap dipanggil ke kantor dokter senior karena melakukan operasi tanpa pengawasan. Awalnya Bennie yakin dia akan dipecat, tapi ternyata dokter senior itu justru menilai tindakan Bennie adalah tindakan yang sangat tepat. Berkat kinerjanya yang sangat baik sewaktu magang, akhirnya Bennie diangkat sebagai dokter tetap di Rumah Sakit John Hopskin.
Bennie mulai mengoperasi pasien-pasien dengan penyakit serius seperti epilepsi yang mengharuskan Bennie melakukan operasi hemispherectomy pada gadis kecil bernama Cyntia. Operasi besar pertama yang dilakukan oleh Bennie ini sukses sehingga dia diliput oleh media nasional Amerika.
                          
Berita tentang kehebatan Bennie sebagai dokter bedah otak terdengar sampai seluruh dunia. Hingga pada suatu hari, Bennie didatangi oleh pasangan suami istri dari Jerman yang mempunyai anak kembar siam. Mereka meminta tolong pada Bennie untuk memisahkan bayi kembar siam mereka dengan selamat. Di era itu tidak ada dokter yang bisa memisahkan bayi kembar siam dengan selamat. Bennie menerima tawaran tersebut. Meskipun Bennie sangat jenius, tentu saja tetap tidak mudah untuk mengoperasi bayi kembar siam.
Sebelum operasi yang sangat besar ini dimulai, Bennie belajar dan mencari solusi dari buku, bahkan dengan imajinasinya Bennie bisa menemukan solusi dari permainan bilyar dan kran air. Dari proses researchnya itulah, akhirnya Bennie memutuskan untuk menggunakan metode operasi dengan menghentikan jantung bayi untuk sementara waktu. Satu hari sebelum operasi dimulai, 30 orang dokter melakukan gladi bersih dan latihan. Bennie yang memimpin 30 orang dokter tersebut.

Pada 1987, operasi yang sangat besar ini dilakukan. Banyak media TV dan surat kabar  dari seluruh dunia datang untuk meliput operasi yang sangat fenomenal di tahun itu. Operasi yang memakan waktu sangat lama itu akhirnya berhasil. Bayi kembar siam asal Jerman itu berhasil dipisahkan dengan selamat. Bennie menjadi dokter bedak otak pertama di dunia yang berhasil memisahkan bayi kembar siam dengan selamat. Keberhasilan dokter Bennie dalam operasi besar ini membuat dia terkenal sebagai dokter terbaik di dunia tahun 80-an. Semua TV di dunia meliputnya. Akhirnya cita-cita Ibunya Bennie untuk melihat anaknya masuk TV kesampaian juga. Siapa sangka Benny yang dulu selalu diejek teman-temannya sebagai “The dumbest kid in the world” sekarang justru menjadi “The smartest doctor in the world”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Mie Jambret

Keterkaitan film "Good Will Huting" dengan Ilmu Budaya Dasar

Photoshop dan CorelVideoStudio